PPP Morodemak : Jembatan Rusak, Layanan SPBN Bonang terhenti..

Posted in problem on Juli 16, 2010 by visitmodem

DEMAK- Perusda Aneka Wira Usaha (Anwusa) Demak menyatakan kesulitan menyuplai solar untuk para nelayan di wilayah Bonang. Hal itu menyusul rusaknya jembatan di Desa Purworejo, Kecamatan Bonang beberapa waktu ini.
Akibatnya, menurut Direktur Perusda Anwusa Demak, Hj Siti Alfiah, pasokan solar ke SPBU di TPI (Tempat Pelelangan Ikan) Morodemak, Bonang, terhenti.
‘’Jembatan itu rusak parah sehingga armada kami kesulitan mencapai SPBU. Sementara waktu, karena solar di Bonang tidak bisa disalurkan, terpaksa harus dialihkan ke Wedung. Selebihnya, harus pula menunggu jembatan diperbaiki,’’ tuturnya kepada wartawan, kemarin.
Dia mengaku tidak berani mengambil resiko memaksakan armada masuk hingga ke SPBU. Pasalnya, kondisi jembatan di Desa Purworejo sangat rapuh pada tiang penyangganya apabila diberi beban berlebih dikhawatirkan roboh. Jembatan itu panjangnya mencapai lebih dari 10 meter dan lebar 5 meter.
Selebihnya, besi penyangga jembatan dan beton lapisan atasnya keropos. Alfiah menambahkan, setiap armada membawa muatan mencapai 8 ribu liter solar. Beban tersebut tidak bisa dipaksakan atau ketika melewati jembatan muncul kemungkinan tak diinginkan. Dia menjelaskan, kuota solar dari Pertamina mencapai 144.000 liter per bulan. Hanya saja, lantaran masalah itu maka jatah 56.000 liter solar dialihkan ke Kecamatan Wedung.
Bupati Tafta Zani mengaku prihatin dengan kondisi nelayan yang kesulitan mendapatkan solar setelah jembatan Desa Purworejo rusak. Diakui untuk bisa memperbaiki jembatan itu membutuhkan waktu. Sebab, jika jembatan itu akan diperbaiki harus memikirkan ganti rugi untuk rumah warga. Rumah warga tersebut berada di mulut jembatan sehingga perlu dicarikan kompensasi ganti rugi. (Sumber : Harian Suara Merdeka tanggal 14 Juli 2010)

Dangkal, Pantai Morodemak Jadi Tempat Wisata

Posted in problem on Januari 9, 2010 by visitmodem

PENDANGKALAN di Pantai Morodemak sepanjang 40 meter ke arah laut menarik perhatian warga sekitar. Mereka pun menjadikan pantai tersebut untuk berwisata sambil menikmati pemandangan laut Demak.

Selama ini sebagian pesisir laut Demak terkikis abrasi. Namun, di sekitar Pantai Morodemak justru terdapat pendangkalan yang menumpuk hingga menjadi daratan yang memanjang ke arah laut. Padahal, tidak ada pemecah gelombang di sekitar itu.

Jarak pendangkalan yang menyembul ke permukaan dan menjadi daratan baru sepanjang 400 meter ke arah laut dengan lebar 14 meter. Karena sebagai pendangkalan baru, belum ditanami bakau.

Warga memanfaatkan tempat tersebut sebagai tempat wisata pantai. Namun, untuk sampai ke lokasi itu harus ditempuh dengan menggunakan perahu dari Pantai Morodemak. Jarak tempuh dari Morodemak hingga lokasi itu membutuhkan waktu 10 menit.

Belum ada warga yang berjualan makanan di tempat itu. Kondisi tersebut dimanfaatkan para nelayan untuk membawa jajanan dan minuman ringan. Tentu harga jualnya lebih mahal.

Keliling Laut

Munir (42), warga Bonang yang me­nik­mati pantai itu bersama teman-temannya menyatakan, tertarik menikmati tempat tersebut. Selain bisa bermain air laut, ia juga bisa memanfaatkan jasa nelayan lokal untuk keliling laut dengan perahu sopek. ’’Saya rasa ini wisata paling menyenang­kan, karena langsung menyatu dengan laut,’’ katanya.

Sejumlah perahu nelayan menepi di lokasi itu. Tidak sedikit nelayan yang membawa anggota keluarganya untuk menikmati tempat mengasyikan tersebut. Sementara sejumlah wisatawan lokal berenang dan bermain di tepi pantai.

’’Ini memang mengasyikan. Sangat berbeda dibandingkan dengan pesisir Pantai Demak lainnya. Sebab, kebanyakan pantai di Demak berlumpur, tetapi di sini tanahnya lebih keras,’’ ujar Munir. Penilaian serupa dikatakan Atik (28), warga Bogorame, Demak. Ia yang baru kali pertama menikmati lokasi itu mengatakan, ketertarikan pantai baru tersebut karena untuk sampai ke lokasi harus menggunakan perahu. Kalau mau melewati darat sulit ditempuh, karena harus berjalan kaki melewati tambak dan jalan setapak.

Menurutnya, tempat tersebut berpotensi tenggelam oleh air terutama ketika air laut pasang. ’’Anggap saja ini lokasi wisata musiman, kalau sedang air surut daratannya tampak seperti pulau,’’ katanya sambil membuat gunungan dari tanah berpasir

Terumbu Karang Rusak Akibat Alat Tangkap Ikan Tak Ramah Lingkungan

Posted in knowledge on Januari 9, 2010 by visitmodem

DEMAK-Terumbu karang yang menjadi tempat bertelur ikan di sekitar perairan Demak mengalami kerusakan. Hal itu disebabkan penggunaan alat tangkap ikan yang tak ramah lingkungan.

Berdasarkan data yang masuk, menurut Kepala Kantor Kelautan dan Perikanan Demak, Ir Maryono, saat ini masih ada sebanyak 1.142 alat tangkap ikan tak ramah lingkungan yang digunakan ribuan nelayan Demak. Alat tersebut berupa cotok sebanyak 180 unit, otok 19 unit dan garuk 64 unit, serta alat tangkap arad sebanyak 879 unit.

“Alat tersebut tak ramah lingkungan, karena dapat menyapu dasar laut hingga karang yang menjadi tempat berlindung ikan. Karena itu, Pemkab Demak telah melarang penggunaan alat tangkap tersebut, agar kerusakan di laut tidak berkepanjangan,” kata Maryono.

Sedangkan daerah yang saat ini telah rusak ekosistemnya antara lain wilayah pantai Desa Morodemak, Margolinduk, Betahwalang, Purworejo Bonang, Wedung dan Desa Tambak Bulusan.

Dikatakan juga, selain menimbulkan kerusakan karang laut, alat jaring yang lubangnya kecil juga merusak ekosistem. Sebab, alat itu secara otomatis menangkap ikan yang masih kecil. Padahal, ikan yang masih kecil semestinya dibiarkan hidup untuk generasi mendatang. Jika ikan kecil ditangkap, maka pada kurun waktu tertentu nelayan akan kesulitan mendapatkan ikan.

“Pemakaian alat tangkap yang tak ramah lingkungan, sama saja dengan menutup mata pencaharian anak cucu para nelayan. Karena itu, kami menyarankan para nelayan agar tidak menggunakan lagi alat yang dilarang itu,” ujarnya.

Menurut Maryono, dalam upaya menekan pemakaian alat tangkap ikan yang bisa merusak lingkungan, pihaknya akan terus mengampanyekan cinta bahari. Diharapkan upaya tersebut mampu menggugah kesadaran nelayan dan masyarakat pesisir untuk mempertahankan kelestarian alam bahari.

UNDP dan MFF Jajaki Kerja Sama dengan FPIK Undip

Posted in knowledge on Januari 9, 2010 by visitmodem

Wednesday, 25 February 2009 13:54

Belum lama ini, wakil United Nation Development Program (UNDP) Mellisa Burges PhD dan John Poulsen dari Mangrove for the Future (MFF) yang berbasis di Bangkok, Thailand, berkunjung ke Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) Undip. Mereka diterima Dekan FPIK Prof Dr Johannes Hutabarat yang didampingi PD IV Dr Ambariyanto MSc. Mereka mendiskusikan tentang pengembangan program bersama. ’’Khususnya, berkait dengan konservasi dan rehabilitasi ekosistem di wilayah pesisir,’’ kata Johannes.

Tahun lalu, FPIK Undip bekerja sama dengan MFF mengadakan pelatihan tingkat internasional tentang rehabilitasi bakau. Juga dalam hubungan dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat sekitar, mitigasi bencana,dan pemanasan global.
Kelak, kata dia, FPIK dan UNDP akan bekerja sama mengembangkan program, khususnya peningkatan kapasitas integrated special planning wilayah pesisir.

Secara khusus Mellisa Burges menunjukkan ketertarikan terhadap wilayah pesisir Demak, khususnya Morosari dan Morodemak, untuk dijadikan model

Ombak besar, nelayan moro paceklik

Posted in sailor man on Januari 9, 2010 by visitmodem

Kamis, 29 Januari 2009

DEMAK – Ombak besar serta gelombang laut yang menggulung setinggi lima meter lebih sebulan terakhir menjadikan nelayan Bonang dan Wedung Demak enggan melaut. Akibatnya mereka paceklik, dan menggadaikan barang-barang berharganya untuk sekadar bertahan hidup.

Ketua Paguyuban Nelayan Bonang Putra Manunggal, Khoiron Imron menuturkan, sejak awal tahun ini gelombang laut rata-rata setiap harinya setinggi tiga hingga lima meter. Maka daripada menyabung nyawa pada kondisi laut yang semakin tak menentu dengan guyuran hujan badai, beberapa nelayan mencari ikan hanya disekitaran muara sungai.

Sedangkan sebagian lagi memilih tetap tinggal di rumah, sambil memperbaiki jala dan jaring mereka yang sobek oleh batukarang. “Musim gelombang dan ombak besar sama artinya musim paceklik, karena tangkapan sepi dan tidak ada pemasukan dari penjualan ikan. Sehingga kami terpaksa menjual atau menggadaikan barang-barang berharga untuk menyambung hidup, ” ungkapnya, Senin (26/1).

Perolehan hasil laut yang menurun berimbas pula pada jumlah pelelangan di PPP Morodemak. Akibatnya sebagian besar harga ikan-ikan yang dilelangkan menjadi sedikit mahal, karena terpengaruh jumlahnya yang terbatas.

Ikan belanak misalnya, jika semula hanya laku Rp 12.000, kemarin harganya naik menjadi Rp 14.000 per kilonya. Ikan layur yang tadinya Rp 15.000 sekilo, kemarin terjual Rp 1.000 lebih mahal. Udang ukuran besar yang semula dijual per kilogramnya Rp 35.000, naik menjadi Rp 40.000. Begitu pula cumi cumi ukuran besar, bila semula Rp 24.000 kemarin sedikit naik menjadi Rp 27.000 setiap kilogramnya

Sedekah Laut 27 September 2009

Posted in culture on Januari 9, 2010 by visitmodem

Ribuan Warga Padati Syawalan Nelayan Bonang

DEMAK – Tradisi sedekah laut atau yang lebih dikenal dengan sebutan syawalan oleh nelayan di Kecamatan Bonang dipadati ribuan warga,  Minggu (27/9).

Menumpuknya jumlah pengunjung menjadikan kemacetan panjang di jalur Bonang- Morodemak.Pesta sedekah laut yang diadakan nelayan Desa Purworejo, Margolinduk dan Morodemak tersebut digelar di pantai Morodemak. Acara yang dimulai pukul 09.00 diawali dengan serah terima tumpeng dari panitia syawalan kepada Bupati Drs H Tafta Zani MM.

Dua tumpeng kemudian dibawa oleh delapan pemuda yang diiringi pasukan patangpuluhan berpakaian ala prajurit menuju kapal. Selain bupati, sejumlah pejabat hadir dalam prosesi tahunan tersebut. Di antaranya Wakil Bupati Drs HM Asyiq, Sekda Drs H Poerwono Sasmito dan jajaran muspida.

Dua kapal yang berisi peserta syawalan berjalan menuju ke tengah laut diiringi puluhan perahu. Termasuk empat perahu dari Tim SAR Kesbangpollinmas dan Polair Polres Demak. Kapal yang telah dihiasi janur dan berbagai pernik makanan khas syawalan seperti ketupat dan lainnya itu menjadi pemandangan tersendiri dari warga dan nelayan.

Selama perjalanan di tengah laut, beberapa perahu kecil sempat membentur kapal pembawa rombongan syawalan. Mereka asyik melihat kapal yang telah dihiasi sehingga lupa mengarahkan laju perahunya, dan serempetan pun terjadi. Namun demikian tidak menimbulkan kerusakan, baik pada perahu maupun kapal.

Sesampai di tengah pantai utara Demak, kapal dan perahu peserta syawalan berhenti. Diawali dengan tahlilan dan doa yang dipimpin KH Mudhofar dari Purworejo. Usai doa, dilakukan pemotongan tumpeng oleh bupati dan diserahkan kepada salah satu panitia.

Rezeki Melimpah

Potongan tumpeng itu lantas dilarung ke laut oleh panitia.
Dalam waktu bersamaan bupati juga melarung tumpeng yang telah dipasang bendera mereh putih. Bupati menuturkan, tradisi sedekah laut telah menjadi budaya yang melekat di kalangan nelayan Kecamatan Bonang. Melalui kegiatan itu, para nelayan menyampaikan syukur kepada Allah SWT dan ke depan berharap mendapatkan rezeki melimpah.

’’Tradisi ini tetap dijaga kelestariannya, dan dari tahun ke tahun menunjukkan peningkatan angka pengunjung,’’ katanya.

Peningkatan pengunjung, menurut Kadinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Demak, H Suwadi dipengaruhi oleh banyaknya acara hiburan yang mendukung syawalan. Antara lain pasar malam, pagelaran wayang, rebana, seni barong kuda lumping, lomba perahu hias, panjat pinang, tangkap itik dan lomba memancing.

Sementara itu Ketua Panitia Sedekah Laut Syawalan Nelayan Bonang, Mudhofar menuturkan, sedekah laut merupakan tradisi yang sudah berlangsung ratusan tahun. Pada masa lalu sedekah laut dilakukan dengan memakai kepala kerbau yang di larung ke tengah laut. Namun seiring perkembangan zaman, diubah dengan hanya tumpeng dan potongan tumpeng.

’’Inti acara ini sebenarnya rasa syukur dan doa kami para nelayan agar diberi berkah dan keselamatan selama mengais rezeki di tengah laut,’’ terangnya.
Selama ini, lanjut dia, nelayan di Bonang mendapatkan tangkapan berlimpah dan diberi keselamatan. Meski terkadang ombak laut cukup besar, tetapi nelayan diberi keselamatan

Morosari dan Morodemak Jadi Objek Penelitian Mangrove Internasional

Posted in knowledge on Januari 9, 2010 by visitmodem

03 Nopember 2008

SEMARANG- Pantai Morosari dan Pantai Morodemak dijadikan objek penelitian mangrove internasional. Pasalnya, mangrove ekosistem  yang berada di pantai utara Jawa itu keadaannya sudah rusak. Hal itu diungkapkan Dekan FPIK Undip Prof Dr Johannes Hutabarat pada acara Applying Project Cycle Tools to Support Integrated Costal Management, Regional Training Course Mangrove for the Future Initiative di Hotel Novotel belum lama ini. ’’Karena itulah para peserta training diharuskan membuat proposal yang berisi tentang solusi perbaikan ekosistem di lokasi tersebut.’’

Yang jelas, kata dia, harus berbasis pada ekonomi masyarakat, dan mereduksi bencana alam. Ditambahkannya, untuk perbaikan daerah pesisir butuh koordinasi lintas instansi seperti Dephut, DKP, pemprov, dan sebagainya. ’’Karena itulah semua elemen harus berpartisipasi, terutama masyarakat pesisir.’’ Ditambahkannya, hanya 10% dari 236 km (panjang pantai utara Jawa) yang masih dalam keadaan baik. Sebagai tambahan informasi, Indonesia National Coordinating Body (NCB) selain FPIK Undip yang memprakarsai training tersebut telah memilih Kabupaten Demak sebagai salah satu proyek kunci implementasi proyek  Mangroves for the Future (MFF). Kegiatan tersebut diikuti oleh 36 orang dari delapan negara.
Berubah Ujud Koordinator Mangroves for the Future (MFF) Dr Donald Macintosh menjelaskan, perubahan iklim dan ulah manusia menyebabkan ribuan hektare hutan mangrove berubah ujud menjadi tambak Udang di Kabupaten Demak sejak dasawarsa terakhir.

Akibatnya, kata dia, air laut menyerbu, dan membuat banjir tambak dan perumahan penduduk di area antara Pantai Morosari dan Morodemak. Lebih dari 200 rumah terpaksa direlokasi. ’’Hilangnya hutan mangrove, penurunan tanah, serta naiknya air laut memberi kontribusi pada terjadinya banjir.’’

Sebenarnya, kata dia, masyarakat pesisir pantai sudah tahu manfaat mangrove bagi keberlangsungan hidup mereka. ’’Namun kemudian datang orang luar yang membuat tambak di sana. Memang faktanya, lokasi di sekitar mangrove tergolong daerah yang subur.’’

Karenanya pada pertemuan tersebut, sambungnya, akan fokus pada alat penerapan manajemen yang dapat menopang masalah lingkungan di Demak dan daerah pesisir lain yang rapuh. Pembicara lain, pakar penanganan bencana dari Swiss Glenn Dolcemascolo mengungkapkan, bencana memang tidak bisa dicegah.

Tapi hal itu bisa direduksi. ’’Pertama, harus mengenal karateristik masing-masing daerah, apakah suatu daerah rawan banjir, tanah longsor, atau bencana lain.’’ Setelah itu, sambung dia, masyarakat disiapkan. Maksudnya, mereka sejak dini harus tahu apa yang harus dilakukan saat bencana datang.

Penataan PPP belum optimal

Posted in development on Januari 9, 2010 by visitmodem

[ Rabu, 15 Oktober 2008 ]
Dibebaskan, Tapi Dibiarkan untuk Jemur Ikan

DEMAK-Penataan kawasan Pelabuhan Pendaratan Perikanan (PPP) Morodemak, Bonang hingga saat ini masih semrawut. Belum ada penataan yang optimal. Padahal, tanah di sekitar lokasi PPP seluas 5 hektare telah dibebaskan sejak 4 tahun lalu.

Menurut Sekretaris Komisi C DPRD Demak, Saekul Hadi Sidik, setelah tanah dibebaskan, harusnya pemkab merencanakan konsep yang jelas. Apalagi belakangan ini lokasi yang telah dibebaskan tersebut kembali dimanfaatkan warga untuk menjemur ikan. Minimal lokasi segera dibangun proyek pengembangan pelabuhan agar lahan tak ditempati lagi.

“Jika pemkab tidak mengambil langkah tegas, akan menimbulkan kekisruhan di kemudian hari. Pemkab harus tegas menertibkan penjemuran ikan di lokasi tersebut. Kalau Satpol PP berani menggusur PKL di lokasi lain, mengapa di pelabuhan ikan Morodemak tidak bisa ?

Kendati demikian, Saekul menambahkan bahwa upaya pemkab memperbaiiki jalan menuju Morodemak telah menunjukkan keseriusan. Bahkan, pada 2008 ini eksekutif dan legislatif memprioritaskan peningkatan jalan ke lokasi tersebut melalui anggaran mendahului APBD Perubahan. “Upaya itu bertujuan menarik simpati pemprov agar lebih memikirkan dan pengoptimalan pengelolaan PPP Morodemak,” jelasnya.

Ditegaskan dia, potensi pemasukan daerah dari sektor perikanan dan pengelolaan PPP Demak bisa lebih besar, jika penggarapannya maksimal. Namun pengelolaan dan penggarapan areal pendaratan ikan nelayan itu harus melibatkan pihak investor.

“Agar investor ataupun Perusda Provinsi Jateng tertarik dengan PPP Morodemak, maka peran pemkab sangat diperlukan. Di antaranya melakukan pembangunan sarana infrastruktur menuju lokasi tersebut. Termasuk penyediaan sarana instalasi air bersih, listrik dan sebagainya,” kata Saekul. Meskipun pembangunan dan pengelolaan PPP kewenangannya pada pemerintah provinsi.

Masjid Agung Demak

Posted in history on Januari 9, 2010 by visitmodem

Masjid Agung Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa, didirikan Wali Sembilan atau Wali Songo. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak + 26 km dari Kota Semarang, + 25 km dari Kabupaten Kudus, dan + 35 km dari Kabupaten Jepara.

Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid mempunyai nilai historis seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, mempesona dan berwibawa. Kini Masjid Agung Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan Aqidah Islamiyah yang terdiri dari tiga bagian ; (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di Masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan “Condro Sengkolo”, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, dengan makna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Raden Fattah bersama Wali Songo mendirikan Masjid Maha karya abadi yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna tahun 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Bisa disimpulkan, Masjid Agung Demak berdiri pada tahun 1401 Saka.

Soko Majapahit , tiang ini berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fattah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk sholat jama’ah wanita. Dibuat menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap ( genteng dari kayu ) kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, di mana 4 diantaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m. Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A.Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.

Surya Majapahit , merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.

Maksurah , merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan ruang dalam masjid. Artefak Maksurah didalamnya berukirkan tulisan arab yang intinya memulyakan ke-Esa-an Tuhan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka tahun 1287 H atau 1866 M, di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Pintu Bledeg, pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Mihrab atau tempat pengimaman, didalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti“Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan Ijtihad). Di depan Mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.

Dampar Kencana , benda arkeologi ini merupakan peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Fattah Sultan Demak I dari ayahanda Prabu Brawijaya ke V Raden Kertabumi. Semenjak tahta Kasultanan Demak dipimpin Raden Trenggono 1521 – 1560 M, secara universal wilayah Nusantara menyatu dan masyhur, seolah mengulang kejayaan Patih Gajah Mada.

Soko Tatal / Soko Guru yang berjumlah 4 ini merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Yang berada di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan yang berdiri di timur laut karya Sunan Kalijaga Demak. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudlu . Situs ini dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang situs kolam ini masih berada di tempatnya meskipun sudah tidak dipergunakan lagi.

Menara, bangunan sebagai tempat adzan ini didirikan dengan konstruksi baja. Pemilihan konstruksi baja sekaligus menjawab tuntutan modernisasi abad XX. Pembangunan menara diprakarsai para ulama, seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H.Moh Taslim, H.Aboebakar, dan H.Moechsin .

UPACARA ADAT GREBEG BESAR DEMAK

Posted in culture on Januari 9, 2010 by visitmodem

Demak merupakan kerajaan Islam pertama dipulau jawa dengan rajanya Raden Fatah. Disamping sebagai pusat pemerintahan, Demak sekaligus menjadi pusat penyebaran agama Islam dipulau Jawa. Bukti peninggalan sejarah masih berdiri dengan kokoh sampai sekarang, yaitu Masjid Agung Demak.

Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa dimulai pada abad XV dan dipelopori oleh Wali Sanga, bahkan salah satu wali tersebut bermukim sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di Kadilangu Demak, yaitu Sunan Kalijaga. Menurut cerita, Kadilangu semula adalah daerah perdikan sebagai anugrah dari Sultan Fatah kepada Sunan Kalijaga atas jasa-jasanya dalam mengembangkan agama Islam dan memajukan kerajaan Demak.

Berbagai upaya dilakukan oleh para Wali dalam menyebarluaskan agama Islam. Berbagai halangan dan rintangan menghadang, salah satu diantaranya adalah masih kuatnya pengaruh Hindu dan Budha pada masyarakat Demak pada waktu itu. Pada akhirnya agama Islam dapat diterima masyarakat melalui pendekatan pendekatan para Wali dengan jalan mengajarkan agama Islam melalui kebudayaan atau adat istiadat yang telah ada.

Setiap tanggal 10 Dzulhijah umat Islam memperingati Hari Raya Idul Adha dengan melaksanakan Sholat Ied dan dilanjutkan dengan penyembelihan hewan qurban. Pada waktu itu, dilingkungan Masjid Agung Demak diselenggarakan pula keramaian yang disisipi dengan syiar-syiar keagamaan, sebagai upaya penyebarluasaan agama Islam oleh Wali Sanga. Sampai saati ini kegiatan tersebut masih tetap berlangsung, bahkan ditumbuh kembangkan.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.